handmade & natural

Lombok

Posted on: May 15, 2007

Sabtu, 5 Mei 2007
Lombok, Nusa Tenggara Barat merupakan kampung halaman suamiku, karena almarhum Ibu mertua lahir di kota Ampenan – tepatnya Mataram. Karena ada saudara yang hendak mengadakan hajatan perkawinan, maka kami sekeluarga diundang ke sana.

Jam menunujukan pukul 12 WITA ketika saya keluar dari pintu pesawat yang membawa seratusan penumpang. Bandara Selaparang yang terletak di Jalan Adisutjipto No. 1 Mataram ini kecil namun rapi dengan berbagai taman yang ada di sekeliling bandara. Karena acara pesta perkawinan masih keesokan harinya, maka kami memutukan untuk menginap di Senggigi barang semalam, baru besoknya pergi ke Mataram. Melalui agen travel yang banyak terdapat di bandara, kami memutuskan untuk menginap di Senggigi Beach Hotel, harganyapun cukup terjangkau yakni Rp. 350.000 per malam, ditambah dua anak menjadi Rp. 385.000,-.

Satu – satunya alat transportasi ke hotel yaitu taksi dengan tarif Rp. 50.000 (jauh – dekat), walaupun sebenarnya jika pakai taksi biasa bisa separuhnya, tapi memang peraturannya begitu ( mungkin khusus untuk warga luar Lombok).

Perjalanan dari bandara menuju hotel memakan waktu 20 menit, pemandangan menuju hotel jauh dari kesan menuju tempat rekreasi yang sudah terkenal sampai mancanegara (seperti halnya perjalanan ke Bali). Luas jalannya cukup untuk 2 mobil dengan 2 arah, kanan kiri banyak persawahan, kebun kelapa, beberapa kuburan Cina dan rumah penduduk biasa, namun sepertinya keadaan seperti ini yang diminati turis asing yang mungkin sudah jenuh dengan pemandangan mall ataupun pertokoan.

Selesai check in, kami diantar ke kamar yang berbentuk panggung, dengan lantai kayu. Kamarnya cukup bersih, standar hotel bintang empat, dilengkapi tv dengan layanan indovision, shower kit, coffee set, lemari es dan depost box. Sambil menunggu sunset, saya membuat kopi krim, kebiasaan setiap nginap di hotel, bermain dengan anak – anak, makan cemilan sambil liat tv, sampai sore tiba.

Kurang lebih jam 5 WITA, kami keluar hotel untuk jalan – jalan sambil nyari makanan. Di depan pintu gerbang banyak dijumpai mobil carteran serta cidomo yang menawarkan kendaraannya untuk keliling kota. Namun karena cuma ingin jalan deket hotel maka diputuskan untuk menyewa cidomo denga tarif rp. 20.000. Jika kita keluar menuju jalan raya, maka banyak terdapat cafe – cafe, art shop, namun karena bukan musim liburan, maka toko – toko serta cafe banyak yang sepi, bahkan nyaris tanpa pengunjung. Karena perut sudah lapar, maka diputuskan balik lagi ke arah hotel dan makan di cafe dekat hotel namanya Gara – gara Cafe (entah maknanya apa). Di cafe inipun hanya ada seorang bule ditemani seorang wanita yang sedang makan, untuk menu ayam taliawang, plecing kangkung dan nasi goreng, kami harus menunggu sekitar 20 menit, dan karena itu pula momen sunset pun terbuang percuma.

terlambat menikmati sunset

Sampai di pantai matahari sudah terbenam sempurna, tinggal menyisakan semburat warna orange, namun demikian saat – saat demikian sayang untuk dilewatkan. Setelah memotret secukupnya, merendam kaki di tepi pantai yang pasirnya benar – benar putih, sementara anak – anak asyik bermain pasir. Makin lama makin gelap dan saya memutusklan untuk duduk di tepi pantai.

Bagi para pengantin baru, saya sarankan untuk berbulan madu ke Lombok dan menginap di hotel ini, pantainya bersih dan tidak terlalu ramai oleh pengunjung, jika sunset tiba dan malam segera menjelang, maka pilihan yang bagus adalah duduk di Bamboo Bar Cafe yang terletak di bibir pantai, menikmati pemandangan laut dan Gunung Agung, Bali serta menikmati live music yang siap menghibur para tamu.

Minggu, 6 Mei 2007

Pagi hari saatnya untuk sarapan di Rinjani Coffee House, restoran yang terletakdi dekat kolam renang, karena bentuknya rumah panggung, maka pemandangan laut nampak terlihat jelas, dengan deburan dan gemuruhnya ombak. Menu yang tersedia makanan Asia dan Eropa, ada nasi goreng, roti tawar beserta pelengkapnya, croisant, dll, dan yang bikin suprise adalah ada yoghurt, hmmm yummy……

Karena anak2 nggak sabar untuk berenang, setelah perut kenyang, saatnya untuk berenang. Sementara anak – anak berenang, saya jalan – jalan ke pantai yang jaraknya hanya lima puluh meter dari kolam renang.

Ternyata di pantai banyak orang bermain surfing, main kano, volly pantai dan sekedar lari pagi menyusuri tepian pantai. Setelah puas merendam kaki di pantai saya balik lagi ke kolam renang, menuggu anak – anak sampai selesai.

Yang menarik perhatianku adalah seorang bule cewek yang lumayan gemuk, menyeberangi kolam sambil membawa buku, busyet …, baru kali ini gue ngliat orang bawa buku di kolam renang, ternyata dia mencari tempat yang teduh untuk membaca, sambil badan direndam air dan tangan bertumpu di sisi kolam renang, dia asyik membaca. Ya ampun…bisa – bisanya, saya jadi inget novelku yang juga kubawa di tasku, tapi rasanya kok terlalu sayang melewatkan waktu saat ini sambil membaca. Lagi pula novel Toni Morrison yang sedang kubaca agak membosankan bagiku, sama bosannya membaca Mrs. Dalloway karangan Virginia Wolf, huh.. ternyata saya bukan penikmat sastra yang baik. Rasanya lebih nikmat membaca karangan Tom Clancy atau John Grisham. Namun demikian kelak novel ini (kelak) berguna untuk menghilangkan kebosanan ketika harus menunggu pesawat selama 3 jam di Executive Lounge bandara Juanda. Setelah 3 jam berenang, akhirnya kami balik lagi ke kamar, karena sebentar lagi saatnya untuk check out.

Senin, 7 Mei 2007

Semalam kami menginap di rumah saudara di Ampenan, sebelah barat kota Mataram (Ampenan dulunya adalah kota pelabuhan). Ciri kota Ampenan adalah banyak ditemui bangunan berarsitektur kuno. Di kota Ampenan sendiri banyak perkampungan yang mewakili dari berbagai suku di Indonesia, seperti Kampung Banjar, Kampung Jawa, Kampung Bali dll.

Setelelah selesai menghadiri acara perkawinan saudara di Mataram, saya bersama saudara pergi ke Pasar Cakra (Cakranegara). Cakranegara merupakan kota bisnis, terdapat pasar pertanian, pasar burung, dan mata air Mayura serta pura Meru, pura terbesar di Lombok. Cakranegara konon dulunya merupakan bekas kerajaan, namun bekas kerajaan (situs) sudah tak bisa dikenali. Di pasar inilah saya beli beberapa kaos untuk oleh – oleh temen kantor. Untuk mendapatkan harga yang murah disarankan pergi ke pasar Cakra untuk mendapatkan harga grosiran.

Habis beli kaus, saatnya untuk mencari cemilan yang terbuat dari rumput laut, sesuai dengan cemilan khas Lombok, oleh pemilik toko disarankan pergi ke Phoenix Food yang masih berada di Cakranegara, kira2 3 km dari pasar Cakra. Setelah cukup, maka saya balik lagi naik taksi balik lagi ke Kampung Banjar, malamnya masih ada acara resepsi di Gedung Wanita, dan esoknya siap – siap pulang ke Jakarta……………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: